Tampilkan postingan dengan label FIKIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKIH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

KENAPA AKU KECEWA

View Article
Saya kecewa kok tanggapannya begitu, aku kecewa kok dinilai seperti itu, saya kecewa berat berat masak hasil kerja keras, loyalitas yg saya berikan dinilai kayak begini, saya kecewa ternyata orang nya kayak gitu, dan saya kecewa , kecewa dan kecewa dengan  ungkpan yg sekian ribu banyaknya
Kenapa saya kecewa…? Pertanyaan ini sangat jarang kita pakai untuk mencari sebuah solusi dan kalau pun pernah saya tanyakan pada diri ini jawaban yg saya jawab sendiri adalah hasil olahan otak saya sendiri dan ini sangat jaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuh dari jawaban yang saya butuhkan, bahkan tidak jarang jawaban yg saya buat sendiri itu membuat saya terserumus dan menjelma menjadi dendam, apatis, nggak mau tahu dan tanpa saya sadari ujung dari jawaban yg saya buat sendiri itu menimbulkan kekecewaan 2 lainya yg bahkan lebih dalam.
Jadi berarti semua jawaban yg terlontar bukanlah merupakan jawaban yg saya butuhkan dan bukanlah merupakan jawaban mendapatkan suatu solusi yg tuntas.

Kalaulah saya jujur akan suara hati ini semua kekecewaan dan ribuan kecewa2 lainnya dalam hidup saya adalah karena saya butuh penghargaan, pangkat, harta, jabatan, kepopuleran dsb…….dsb.
Jadi semua itu saya lakukan dengan tujuan seperti apa yg saya rekayasa di dalam otak dan hati saya.
Kalau ini memang benar betapa malangnya seorang anak manusia yg berstatus wakil Allah dimuka bumi, karena bertumpuk-tumpuk kekecewaan akan terus menyertai dan membayangi sepanjang kehidupan ini, saya kecewa kenapa anak2 hanya menghasilkan nilai yg sebegitu saja, saya kecewa saya sekolahkan dia tinggi2 dan mengirimnya belajar ke negeri yg sangat maju tapi kok hanya jabatan itu yg didapatnya kenapa gaji yg tidak berarti yg diahasilkannya  dan saya kecewa……..kecewa …….kenapa …..,kok…, hanya….., padahal………. dan beribu kata lainnya keluar yg berupa penyesalan dan ini akan menigkat menjadi beban yg menimbulkan depresi, penyakit hati, dendam kesumat. putus asa dan sekian banyak lain nya dampak negative akan tumbuh subur di dalam hati tanpa kita sadari kedatangannya.

Hai hati ku, ruh ku, sanubari ku, kenapa engkau harus kecewa toh semua yg engkau dapatkan itu adalah hasil  dari apa yg engkau tanam.

Hai hatiku, semua kekecewaan itu adalah karena engkau telah memborong dan dengan serakah mengambil hak yg bukan seharusnya  hak mu.
Engkau rencanakan, engkau kerjakan dan engkau tetapkan hasil yg harus engkau capai.
Adakah hak mu hai manusia untuk memutuskan …menentukan … dan menetapkan………? Kalau lah jawabannya iya kenapa kau harus merasakan kecewa, merasakan ketidak puasan, menimbulkan dengki, dendam dan kebencian…….!

Maha Besar Allah Tuhan Manusia dan Tuhan seluruh alam yg hanya Dialah yg mempunyai hak mutlak untuk memutuskan dan menentukan dan menetapkan

Hai hati ku kekecewaan 2 yg kau alami adalah karena engkau dengan sombongnya telah berani dan pongah mengambil hak nya Tuhan mu, yg engkau sama sekali ….sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan kekusaan sekecil apapun untuk memikulnya tidak walau hanya sepersekian juta dari besanya inti atom, hatiku bertafakurlah dan dikirkanlah apakah hak mu yang sebenarnya yg diberikan Allah untuk mu ? :

TIDAKLAH AKU JADIKAN JIN DAN MANUSIA KECUALI UNTUK MENYEMBAH/BERIBADAH KEPADAKU ………(Q.S Adz Dzariyat 56)
 
Kalaulah otak ini mau berfikir dan hati ini merunduk, bukankah sudah jelas semuanya, yaitu keberadaan aku dan alasan diciptakan Nya aku adalah dengan satu kewajiban, ya kewajiban ku hanya satu yaitu beribadah ……..beribadah .dan beibadah………

Kalaulah semua itu aku lakukan dengan niat ibadah semata karena Allah yg memang menghendaki demikian …..aku kerjakan ini karena ibadah, aku sekolahkan anakku karena aku ingin beibadah, aku harus kerja keras karena itu ibadah, aku hasilkan suatu karya karena itu ibadahku, ibadah .ibadah ……ibadah .dan ibadah, sehingga setiap goresan pena, setiap langkah yg kuayunkan , setiap batang kawat las yg kutorehkan, setiap senyum yg kulontarkan adalah bagian dari ibadah. Dan ibadah ku hanya Dialah yg menjadi supervisor ku, hanya Allah lah yg menjadi managerku, Hanya Allah lah yg menjadi pengawas ku, hanya Allah lah yg menjadi director ku, dan hanya Allah lah yg Maha segala Maha dan Dialah Yg mengawasiku, berarti semua yg kulakukan adalah yg terbaik yg bisa aku kerjakan, usaha yg paling keras yg bisa kita upayakan dan semua nya adalah yan ter  ….ter…..ter … karena sang hati ingin ibadahnya sempurna, kalau begitu …..perlu lagikah aku bekerja diawasi, perlu lagikah aku korupsi, perlu lagikah aku khianat, perlu lagikah aku memakan yg bukan hak ku, perlu lagikah aku menahan hak orang lain yg seharusnya kubayarkan, perlu lagikah aku berbuat zalim, perlu lagi kah aku mencuri, perlu lagikah aku menipu dsb ……….tidak …..hai qalbuku ….itu semua tidak kita butuhkan lagi karena sebenarnyalah itu bukan suatu kebutuhan.

Kalaulah semua itu aku lakukan dengan NIAT IBADAH, apakah aku akan kecewa …………? Tidak sama sekali tidak akan ada kekecewaan semua yg kudapatkan adalah rasa  puas dan syukur, mobil yg mewah, rumah yg besar, pangkat yg tinggi, harta yg berlimpah, gaji yg kecil,  hidup yg miskin semua itu tidaklah akan menjadikan kau pongah dan kecewa ….yang keluar dari perilaku dan tidak tanduk adalah merupakan ujud dari rasa Tawakal kepada Nya,mari qalbu ku kita tidak membutuhkan depresi,kita tidak membutuhkan ketakutan, kita tidak butuh stress, kita tidak butuh benci, kita tidak butuh dendam ….terbanglah menggapai Rabb mu akan kau temukan kedamaian hidup yg hakiki.
Disaat mata ku terbuka dan kegiatan hari ini kumulai dengan mencanangkan niat  bahwa semua kegiatan hari ini kulakukan dengan NIAT IBADAH dan hanya mengharap redha Mu ya ALLAH:

Kalaulah hasil yg kupetik tidaklah seperti harapanku, aku tak perlu kecewa karena Tuhanku Maha Pengasih dan Maha Mengetahui bahwa semua yg kulakukan itu adalah merupakan rangkaian ibadah ku, Insyallah satu tabungan dan kekayaan untuk ku sudah disediakan di akhirat, dan seandainya aku mendapatkan hasil didunia seperti yg ku bayangkan (bukan yg ku tetapkan) maka saat itu dua hasil kuraih sekaligus yaitu dunia dan akhirat.

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak(pula)oleh jual beli dari mengingati Allah, dan dari (mendirikan)shalat, dan (dari)membayar zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
(Mereka mengejakan yang demikian itu) suapaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia Nya kepada mereka.
Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki Nya tanpa batas. (Q.S.An-Nur 37 –38).

Dan untuk membantu kesadaran mu hai qalbuku ingatlah saat kelompok pendeta2 dan pembesar Najran menemui Rasullullah lengkap dengan membawa dan memperlihatkan kemewahan yg sangat wah, bukankah Allah saat itu telah memberikan peringatan bahwa semua itu sungguh tidak bernilai dan Dia telah menjanjikan sesuatu yang sangat saaaaaaaaaaaaaaangaaaaaaaaaat lebih baik dari pada itu dengan menurunkan firman Nya yang suci dihadapan para pembesar dan pendeta Nasrani dari negeri Najran tersebut seperti yang disebutkan dalam Q.S Ali Imran ayat 14 :

Dihiaskan kepada manusia, mencintai syahwat(keinginan nafsu), seperti peempuan-perempuan, anak-anak dan harta benda yang banyak, dari emas, perak, kuda yang bagus binatang-binatang ternak dan tanam-tanaman. Demikian itulah kesukaan hidup didunia, dan disisi Allah tempat kembali yang sebaik-baiknya.

Dan mungkin hadist yang diriwayatkan oleh Abul-Laits Assamarqandi dengan sanadnya dari Ziad bin Tsabit dibawah ini dapat kita renungkan :

Siapa yang niatnya keakherat maka Allah akan menghimpun baginya semuanya dan dijadikan kaya hati , dan datang kepadanya dunia merendah diri. Dan siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan/kegelisahan/ketakutan selalu membayang diruang matanya dan tidak akan datang dunia kepadanya kecuali yang ditentukan baginya.

Jadi masihkah aku dimasa-masa mendatang mendapatkan kekecewaan…!, hai sang qalbu bukankah kita tidak membutuhkan kekecewaan itu lagi …..untuk itu bantu aku membangun idabah sepanjang hayat dan disetiap helaan nafas ini.

Keutamaan Membaca Alquran

View Article
"Barangasiapa membaca satu huruf saja dari kitabullah (Alquran), maka
baginya satu kebajikan. satu kebajikan itu sebanding dengan sepuluh
kebajikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tapi alif itu
satu huruf lam satu huruf, mim satu huruf". (HR. Tirmidzi)

Penjelasan
Alquran adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah sebagai
salah rahmat bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang
menjadi petunjuk, bagi siapa yang mempercayai serta mengamalkannya. Isinya
mencakup semua pokok syariat yang terdapat dalam kitab suci yang
diturunkan sebelumnya.

Karena itu, setiap orang yang berinteraksi dengan Alquran, akan bertambah
cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, memahaminya, serta mengamalkan
dan mengajarkannya.

Sebagai Mukmin, kita harus yakin bahwa membaca Alquran saja sudah termasuk
ibadah dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Sebab, yang dibacanya
itu adalah kalm Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah.

Dalam sebuah hadits diungkapkan tentang keutamaan dan kelebihan membaca
Al-Quran, "Ada dua golongan manusia di mana orang dengki kepadanya, yaitu
orang yang diberi oleh Allah Al-Quran, lalu ia baca siang dan malam; dan
orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, lalu ia gunakan harta itu si
siang dan malamnya hanya untuk sesuatu yang diridhai Allah" (HR. Bukhari
Muslim).

Dalam hadits yang lain, diungkapkan pula keutamaan orang yang membaca
Quran, "Perumpamaan orang Mukmin yang membaca Al-Quran, adalah seperti
bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang Mukmin yang tidak
suka membaca Al-Quran, adalah seperti buah qurma, baunya tidak begitu
harum, tetapi manis rasanya;

orang munafik yang membaca Al-Quran ibarat sekuntum bunga, berbau harum,
tetapi pahit rasanya; dan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran, tak
ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali."

Seseorang yang membaca Al-Quran pada hakikatnya sedang berkomunikasi
dengan Allah. Ia pun akan mendapatkan kemuliaan dan pahala yang berlipat
ganda (QS. Fathir: 29-30)

Rabu, 16 Januari 2013

Adab Membaca al-Qur'an

View Article
 
ANTARA ibadah sunat yang digalakkan dalam bulan Ramadhan, selain
sembahyang tarawih, ialah bertadarrus membaca (tilawah) al-Qur'an
al-Karim. Seperti ibadah yang lain, tilawah al-Qur'an juga punya
peraturan dan adabnya. Pembaca al-Qur'an (qari` / qari`ah)
sebaik-baiknya mengetahui dan mematuhi peraturan dan adab membaca
kitab suci itu. Perlu diketahui bahawa yang lebih utama (awla) bagi
ibadah tilawah al-Qur'an ialah kefahaman terhadap maksud atau
tafsiran ayat-ayatnya lalu mengamalkannya. Di samping itu
pembacaannya hendaklah mengikut hukum tajwid dan peraturan-peraturan
yang tertentu. Allah Taala berfirman, mafhumnya, "Orang-orang
yang telah kami datangkan al-Kitab sedangkan mereka membacanya
dengan bacaan yang sebenar-benarnya, maka mereka itulah yang beriman
kepadanya, dan barangsiapa ingkar terhadapnya maka merekalah
orang-orang yang rugi". (al-Baqarah : 121).

Mengiku t Ibnu 'Abbas, ayat "membacanya dengan bacaan yang
sebenar-benarnya" dalam di atas itu bermaksud: "memepelajarinya dan
benar-benar patuh mengamalkannya".

Mengikut Imam al-Ghazali : Bacaan al-Qur'an dengan sebenar-benar
bacaan itu ialah adanya persepaduan antara lidah, akal dan hati.
Lidah mentashihkan segala hurufnya, akal mentafsirkan segala maknanya
dan hati menerima pengajarannya, kesannya, tegahannya dan
suruhannya. Tersebut dalam sebuah kitab : Wajib ke atas qari
/ qariah ikhlas membaca al-Qur'an dengan mengqasadkan semata-mata
kerana Allah. Janagan diqasadkan kerana selain-Nya. Dalam kitab lain
tersebut : Makruh diambil al-Qur'an sebagai usaha untuk kehidupan
(mata pencarian), kerana mengikut satu riwayat, Rasulullah bersabda,
mafhumnya, "Barangsiapa membaca Qur'an, maka hendaklah meminta
(balasan) daripada Allah. Bahawa sesungguhnya nanti akan datang satu
kaum yang membaca Quran untuk mendapat balasan daripada manusia".

Be rikut adalah adab-adab membaca al-Qu'an sebagaimana yang
tersebut dalam kitab Mawradul-Zham`aan :

Sebelum membaca al-Qur'an hendaklah membersihkan badan dan mengambil
wudhuk. Jika sudah berwudhuk, mulut hendaklah dibersihkan.
Rasulullah bersabda, mafhumnya : "Sesungguhnya mulut kamu itu laluan
al-Qur'an, maka bersihkanlah ia dengan bersugi". Apabila wudhuk
terbatal, segeralah memberhentikan bacaan dan mengambil wudhuk
semula. Sunat berpakaian yang elok, bersih dan menutup aurat serta
memakai bau-bauan.

Tempat membaca al-qur'an hendaklah suci. Afdhalnya di masjid. Makruh
membaca di jalanan atau di tepi jalan, di dalam bilik mandi, di
pasar atau tempat perhimpunan orang yang dungu ataupun di tempat
yang tak selayaknya dengan kesucian dan kemuliaan al-Qur'an.
Hendaklah duduk mengadap kiblat dengan penuh ta'zhim, kepala
tertunduk dan tidak di dalam keadaan bersila. Jangan sekali-kali
duduk seperti duduk orang yang takabbur.

S ebelum memulakan bacaan, bacalah dulu ta'awwuz. Allah berfirman,
maksudnya : "Apabila engkau membaca al-Qur'an, bacalah t'awwuz (
A'uuzu billaahi minal-syaithaanil-rajiim )". Bacaan ta'awwuz ini
jika di khalayak boleh dibaca nyaring, tetapi jika tiada khlayak
untuk mendengarnya, lebih utama (awla) diperlahankan bacaannya, iaitu
seperti membacanya di dalam sembahyang. Kecuali bacaan al-Qur'an
tehenti lama, selama mengerjakan satu raka'at sembahynag, bacaan
ta'awwuz ini tidak dituntut untuk diulang lagi.

Hendaklah membaca tasmiyah (bismillaahil-Rahmaanil-Rahiim) pada awal
tiap-tiap surah kecuali surah al-Tawbah (Baraa`ah).
Ketika membaca, qari / qariah hendaklah di dalam keadaan sentiasa
mengingati bahawa dirinya diperhatikan oleh Allah_sebagaimana ketika
mengerjakan sembahyang juga.

Untuk menghormati atau memuliakan al-Qur'an, jangan teruskan bacaan
semasa menguap, kerana menguap itu tabiat syaitan. Selesai menguap
dengan sopan, b arulah menyambung semula bacaan.
Jangan tertawa atau bercakap bercampur-aduk dengan bacaan kecuali
kerana satu-satu hajat yang dharurat. Justeru, bacaan sebaik-baiknya
di tempat yang terasing agar tidak diganggu atau diajak bercakap
oleh orang lain. Bagaiamana pun qari / qari`ah boleh memutuskan
bacaannya untuk memberi salam atau untuk menjawab salam.

Sunat memutuskan bacaan untuk tujuan berikut :
1. mengucap "Al-hamdulillaah" selepas bersin,
2. mengucap "Yarhamukallaah" kepada orang yang bersin,
3. menjawab azan,
4. bangun menghormati ketibaan orang alim, orang shalih atau
orang yang dimuliakan, tetapi bukan dengan riyak.

Keseluruhan bacaan sebaik-baiknya (afdhal) dengan suara nyaring jika
bertujuan untuk didengar, disemak serta dimanfaatkan atau dihayati
oleh orang lain, atau pun untuk mengawal konsentrasi diri sendiri
terhadap bacaan atau untuk menghilangkan rasa jemu atau mengantuk.
Sebaliknya, jika ditakuti menjadi riyak atau akan mengganggu orang
yang sedang atau akan bersembahyang atau tidur, tidak digalakkan
membaca nyaring, yakni membaca perlahan adalah lebih afdhal. Suatu
masa di dalam masjid, Rasulullah pernah bersabda, mafhumnya:
"Ketahuilah, setiap kamu bermunajat kepada Tuhan, maka janganlah
menyakiti (mengganggu) antara satu sama lain dan jangan antara kamu
mengangkat suara bacaan sehingga menggannggu yang lain. (HR.
Abu Dawud).

Dikatakan sunat juga suara bacaan al-Qur'an itu berselang-seli_sekali
perlahan sekali nyaring. Apabila terasa jemu atau mengantuk dengan
membaca perlahan, bacalah secara nyaring dan apabila terasa penat,
lalu kembali membaca perlahan sebagai istirahat.

Sunat bacaan secara tartil, serentak dengan tadabbur (penelitian)
dan tafahhum akan makna ayat-ayatnya. Allah berfirman, mafhumnya,
"Dan bacalah al-Qur'an itu (mantapkan bacaan) dengan perlahan-lahan
(tidak terlalu cepat)". (QS. 73 : 4), dan "Inilah kitab yang kami
turunkan kepadamu penuh dengan berkat agar mereka mentadabburkan
makna segala ayatnya dan agar mendapat pelajaran orang-orang yang
berfikitan". (QS. 38:29). Kata Ibnu 'Abbas, "Aku baca surah
al-Baqarah dan Ali 'Imran dengan tartil dan aku tadabburkan kedua
surah itu . Ini lebih aku suka daripada membaca dengan pantas
seluruh al-Quran". Apabila membaca ayat-ayat yang berkenaan, sunat
beristighfar, bershalawat, bersyukur, minta berlindung atau berdoa
dan sebagainya. Berkata 'Auf bin Malik, "Aku bersama dengan
Rasulullah yang membaca surah al-Baqarah pada suatu malam. Baginda
berhenti berdoa apabila membaca ayat mengenai rahmat dan meminta
berlindung dengan Allah apabila membaca ayat mengnai azab".
(HR. Abu Dawud dan al-Nisa`i).

Rasulullah bersabda, mafhumnya, "Barangsiapa membaca surah al-Tiin
hingga akhir ayatnya, maka hendak berkata 'Balaa wa ana 'alaa
dzaalika minal-syaahidiin' (Bahkan, dan aku daripada mereka yang
me njadi saksi atas yang demikian itu); barang siapa membaca
surah al-Qiyaamah samapi selesai pada ayat, 'Alaysa dzaalika
biqaadirin 'alaa an yuhyiyal-mawtaa', maka hendaklah berkata,
'Balaa' (bahkan); dan barangsiapa membaca surah al-Mursalaat hingga
akhir ayatnya, maka hendaklah berkata, 'Aamannaa billaah' (Kami
beriman dengan Allah)"- (HR. Abu Dawud dan al-Tirmizi).

Al-Hakim meriwayatkan : Apabila selesai membaca ayat akhir surah
al-Mulk, iaitu "Faman ya`tiikum bimaa`in ma'iin" (Maka siapakah
yang memberikan kepada kamu air yang mengalir? , hendaklah berkata
"Allaahu Rabul-'Aalamiin" (Allah Tuhan seantiru alam) dan apabila
selesai membaca surah al-Dhuhaa, hendaklah mengucap takbir.
Bacaan-bacaan tambahan tersebut, selain sunat dibaca oleh qari /
qari`ah berkenaan, sunat juga dibaca oleh pendengar.

Pada ayat-ayat tertentu yang merupakan kata-kata orang kafir pula
disunatkan membacanya dengan perlahan (tidak nyaring). Diwayatkan :
Ibrahim al-Nakha'i membaca perlahan pada ayat "Wa qaalatil-Yahuudu
yadullaahi maghluulah" (Dan berkata orang-orang Yahudi, 'Tangan
Allah terbelenggu' - QS. 5:64) dan "Wa qaalatil-Yhuudu
'Uzayrunibnullaah" (Dan berkata orang-orang Yahudi: ''Uzayr anak
Allah' - QS. 9:30) .

Sunat membaca al-Qur'an sambil menangis. Rasulullah s.a.w bersabda,
mafhumnya, "Bacalah al-qur'an serta menangis. Jika tidak menangis
seberapa boleh menangislah". Kata Ibu 'Abbas, "Apabila kamu baca ayat
Sajadah, maka jangan kamu segera sujud sehingga kamu menangis. Jika
tidak menangis, hendaklah menangis di dalam hati". Sesungguhnya yang
mendorongkan tangisan itu ialah menjadikan hati dukacita". Daripada
dukacita itulah tercetusnya tangisan. Rasulullah bersabda,
mafhumnya, "Bahawa al-qur'an itu diturunkan dengan dukacita, maka
apabila kamu membacanya, hendaklah dengan hati yang
dukacita". Timbulnya dukacita itu ialah dengan mengingati dan
mengamati perbuatan yang dim urkai Allah serta mengingati
kecuaian mentaati perintah dan tegahan-Nya, lalu tercetuslah
tangisan. Diriwayatkan, bahawa menangis ketika membaca al-Qur'an itu
ialah sifat orang-rang shalihin dan 'arifin.

Sunat memelihara hak ayat-ayat yang dibaca, iaitu hendaklah
melakukan sujud al-Tilawah (sudut Sajadah) apabila membaca ayat-ayat
Sajadah. Terdapat 14 tempat (ayat Sajadah) di dalam al-Qur'an :
masing-maasing satu ayat dalam surah al-A'raaf, al-Ra'd, al-Nahl,
al-Israa`, Maryam, dua dalam surah al-Hajj, masing-masing satu ayat
dalam surah al-Furqaan, al-Naml, Alif-laam-mimm al-Sajadah, Haa-miim
al-Sajadah, al-Najm, al-Insyiqaaq dan al-Qalam. Selain itu, ayat
Sajadah dalam surah Shaad disunatkan melakukan sujud Syukur.
Rasulullah bersabda, mafhumnya, "Nabi Dawud Sujud kerana taubat dan
kami sujud kerana syukur" - (HR. al-Nasa`ii).

Dalam setiap sujud Syukur dan Tilawah itu disunatkan membaca
doa yang tertentu. Syarat-syaratnya pula sama dengan syarat-syarat
mendirikan sembahyang, iaitu berwudhu', menutup aurat, mengadap
kiblat dan tempat, pakaian serta tubuh badan yang suci.
Apabila selesai bacaan, disunatkan mentashdiqkan Allah dan naik
saksi tentang tabligh Rasul-Nya, iaitu : Shadaqallaahul-'Azhiim wa
ballagha Rasuuluhul-kariim wa nahnu 'alaa dzaalika minal-Syaahidiin.
Kemudian disunatkan pula berdoa : Allaahummaj'alnaa min
syuhadaa`il-haqqil-qaa`iminna bil-qisth. Kemudian ditambah dengan
mana-mana doa pilihan yang lain. Akhirnya, apabila khatam bacaan,
bacalah doa Khatam al-Qur'an. Demikianlah adab-adab membaca al-Qur'an
al-Karim. Dengan mengamalkannya, mudah-mudahan akan mendapat berkat
dan keridhaan Allah, insya Allah.

Wallahu a'lam.

Jumat, 11 Januari 2013

7 KIAT BINA SHAF UKHUWWAH

View Article

Dalam surat Al Hujurat (QS 49) Allah SWT memaparkan 7 kiat bagi kita untuk menangkal virus-virus ukhuwwah yang bisa menghancurkan shaf ukhuwwah yang telah dibina.

1. Tabayyun
Tabayyun berarti mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS 49:6)


2. 'Adamus Sukhriyyah
Artinya tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain. Firman Allah
SWT:
"Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan)."
(QS 49:11)

Saat ini terdapat banyak kelomp! ok atau organisasi dakwah.
Harus kita sadari bahwa diantara kelompok-kelompok dakwah tersebut terdapat perbedaan yang prinsipil maupun yang tidak prinsipil. Perbedaan dalam menentukan al-hadaful a'la (sasaran tertinggi) termasuk dalam masalah prinsip.

Kondisi ini memancing suasana tanafus (persaingan) yang kadang bentuknya tidak sehat. Persaingan ini akan semakin tidak sehat dengan tampilnya oknum-oknum yang senang melontarkan ungkapan-ungkapan bernada cemooh persaingan.

Berhimpunnya kelompok-kelompok dakwah dan harakah yang ada di bumi sekarang ini adalah suatu mimpi indah. Sebagaimana yang ditulis DR. Yusuf Qardhawi, maka kesatuan wala' (loyalitas) dan tumbuhnya suasana ta'awun dalam menghadapi konspirasi para thaghut adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi. Dan kalaupun hal ini belum terwujud karena ada beberapa hal yang belum bisa kita lakukan, maka tidak mampukah kita sekadar meninggalkan tradisi sukhriyyah dan perasaan ana khairun minhu (saya leb! ih baik daripadanya) seperti yang dinyatakan iblis???

3. 'Adamul Lamz
Maksudnya tidak mencela orang lain. Ini ditegaskan dengan firman-Nya:
"Dan janganlah kamu mencela diri sendiri'. Mencela sesama muslim, oleh ayat ini dianggap mencela diri sendiri, sebab pada hakekatnya kaum muslimin dianggap satu kesatuan. Apalagi jika celaan itu adalah masalah status dan standar kebendaan. Allah sendiri menyuruh Rosul dan orang-orang
yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin. (lLihat QS, 18:28).

4. Tarkut Tanabuz
Yakni meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim. Ini berdasarkan firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang
buruk)." (QS 49:11)

Tanabuz dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Pada kenyataannya masih saja ada orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menyebut kafir kepad! a orang yang tidak
tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa." (QS 49:12)

Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut. Dan sebaliknya, kepada orang kafir dan musuh Islam, kaum muslimin harus menaruh curiga bila mereka bermanis budi. Allah SWT sendiri menegaskan:
"Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta-harta
mereka untuk mengahalangi manusia dari jalan Allah." (QS 8:36)

6. Adamut Tajassus
'Adamut Tajassus adalah tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain. Perbuatan ini amat dicela Islam. Allah SWT amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri. Firman Allah SWT:

" Dan janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain." (QS 49:12)!

7. Ijtinabul Ghibah
Allah SWT menegaskan:
"Dan janganlah kamu sekalian menggunjing sebagian lain.Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?…"

Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi.
Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain.

Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.